Tuhan, Aku Ingin Pulang

Aku adalah debu yang tertiup angin, hilang arah, terombang-ambing di tengah pekatnya dunia. Langkahku membawa jauh, terlalu jauh, hingga bayang cahaya-Mu pun nyaris tak terlihat. Aku sibuk mengejar mimpi yang fana, lupa bahwa pada-Mu segala yang abadi bersemayam.  

Hati ini kering, retak seperti tanah yang lama tak disapa hujan. Setiap hari kulewati dengan riuh kesibukan dunia, namun semakin kugenggam gemerlapnya, semakin terasa kehampaan yang mencengkram. Aku tersadar, aku telah melupakan-Mu, Dzat yang dulu selalu menenangkan hatiku yang gelisah.  

Malam itu, dalam kesunyian yang pekat, aku duduk di sudut kamar. Angin malam berbisik lembut di celah jendela, seolah ingin mengingatkanku akan sesuatu yang telah lama hilang. Dadaku sesak, seolah ada sesuatu yang tak mampu kuraih meski begitu dekat. Perlahan, air mata mengalir, membasuh debu-debu dosa yang lama mengerak di hati.  

Aku menengadah, mencari-Mu di langit gelap yang tak berbintang. “Tuhan,” bisikku, nyaris tanpa suara. “Aku rindu. Aku ingin pulang.”  

Rindu ini begitu menggelora, seperti seorang anak kecil yang terjatuh lalu merindukan pelukan ibunya. Dalam isak tangis itu, aku merasa sesuatu yang tak kasat mata hadir menyelimuti. Hangat, lembut, seperti cahaya yang tak terlihat namun terasa menyentuh.  

Aku tahu, Kau tak pernah pergi. Aku yang menjauh, tenggelam dalam keangkuhan dan kelalaianku. Namun, Engkau tetap di sana, menunggu dengan sabar, seperti laut yang setia menanti perahu kembali.  

Langkahku perlahan kugerakkan menuju-Mu. Aku tahu, jalanku mungkin tak lurus, penuh duri dan kerikil yang melukai. Namun, tak apa. Karena aku tahu, di ujung perjalanan ini, ada pelukan-Mu yang menanti.  

Tuhan, aku hanyalah jiwa kecil yang rapuh, berlumur dosa, namun tetap Kau izinkan rindu ini tumbuh. Rindu yang membawaku pulang. Kini, aku pasrah, berjalan di bawah naungan cinta-Mu, karena hanya dengan kembali kepada-Mu, aku menemukan hidupku yang sejati.  

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aroma Kehidupan dalam Secangkir Kopi

Mencari Pulang di Rumah Singgah