Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2025

Sembilu Rindu yang Tak Terucap

Rindu adalah simfoni pilu yang tak terurai dengan logika, seperti bisikan angin yang merayap lembut di sela dedaunan, meninggalkan jejak sunyi yang menggema. Ia hadir tanpa diundang, seperti bayangan yang merayap dalam keheningan, menyusup hingga ke sudut hati yang paling rapuh. Rindu bukan sekadar ingin bertemu, melainkan doa tanpa suara, harapan yang tergantung di ujung langit senja.   Namun, bagaimana jika rindu itu menjadi sembilu yang mengiris jiwa? Ia seperti luka tak terlihat, menganga lebar, meski tak berwarna darah. Ada rasa yang tertahan di dasar hati, bercampur sesak, mengendap dalam diam. Kita ingin meneriakkan segala perihnya, tapi kepada siapa? Rindu itu seperti ombak yang menghantam lembut, menarik kita perlahan ke pusaran kenangan yang tak berujung.   Malam seringkali menjadi saksi bisu kegundahan jiwa. Langit kelam menjelma samudra luas yang hampa, seolah ikut merasakan kehampaan hati yang dirundung rindu. Bintang-bintang diam tak berkedip, seakan me...

Tuhan, Aku Ingin Pulang

Aku adalah debu yang tertiup angin, hilang arah, terombang-ambing di tengah pekatnya dunia. Langkahku membawa jauh, terlalu jauh, hingga bayang cahaya-Mu pun nyaris tak terlihat. Aku sibuk mengejar mimpi yang fana, lupa bahwa pada-Mu segala yang abadi bersemayam.   Hati ini kering, retak seperti tanah yang lama tak disapa hujan. Setiap hari kulewati dengan riuh kesibukan dunia, namun semakin kugenggam gemerlapnya, semakin terasa kehampaan yang mencengkram. Aku tersadar, aku telah melupakan-Mu, Dzat yang dulu selalu menenangkan hatiku yang gelisah.   Malam itu, dalam kesunyian yang pekat, aku duduk di sudut kamar. Angin malam berbisik lembut di celah jendela, seolah ingin mengingatkanku akan sesuatu yang telah lama hilang. Dadaku sesak, seolah ada sesuatu yang tak mampu kuraih meski begitu dekat. Perlahan, air mata mengalir, membasuh debu-debu dosa yang lama mengerak di hati.   Aku menengadah, mencari-Mu di langit gelap yang tak berbintang. “Tuhan,” bisikku,...

Ombak yang Berbisik pada Pena

Saat jarum jam melayang menuju senja, aku duduk dengan pena di tangan, kertas kosong di depanku, dan hati yang penuh dengan segala perasaan yang tak terucapkan. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma garam yang menyentuh kulit dengan ciuman lembutnya, sementara suara gemuruh ombak mengalun seperti lagu lama yang tak pernah usai. Dalam setiap dentuman gelombang, dalam setiap riak yang mengukir lekuk di permukaan laut, aku mendengar sebuah bahasa kuno, bahasa yang tak mampu ditangkap oleh telinga, namun bisa dirasakan di kedalaman jiwa, sebuah bahasa yang hanya bisa kupahami dengan hati, bukan dengan kata-kata. Aku menulis, bukan sekadar untuk merangkai kalimat atau menghias kertas putih yang kosong. Aku menulis untuk menyuarakan bisikan yang tak terdengar oleh dunia, untuk menyelami gelapnya ruang-ruang yang tak pernah terungkap dalam percakapan. Seperti ombak yang datang dengan kekuatan, membawa bersama segala amarah, kegelisahan, dan harapan yang telah lama terkubur di dalam diri,...

Luka yang Bersuara dalam Sunyi

Ada luka yang tak mampu dititipkan pada angin, tak sanggup disematkan pada suara. Ia seperti kabut, menyelimuti jiwa dalam keheningan yang menggigil. Sakitnya tidak berteriak, tidak pula meronta, hanya bersemayam diam di sudut hati yang remuk.   Aku menaruhnya di atas kertas, menorehkan rasa pedih itu dengan pena yang gemetar. Setiap kata yang mengalir adalah darah dari luka yang tak terlihat, menghidupkan rasa yang hanya bisa kugenggam sendiri. Menulis adalah caraku bernapas ketika dunia seolah menutup pintunya, caraku berbicara pada semesta tanpa berharap balasan.   Namun, sungguh, menulis tidak mengobati. Ia hanya menjadi pintu kecil di mana aku dapat melarikan diri, meski sebentar saja. Setiap kalimat yang kugoreskan adalah bagian dari diriku yang perlahan terkikis, pecahan rasa yang kusembunyikan dalam balutan metafora.   Rasa sakit ini terlalu pekat untuk diucapkan. Bagaimana aku bisa menjelaskan perih yang tidak bernama, kehilangan yang tidak terliha...