Menyulam Rindu dalam Setiap Kata untuk Rasulullah
Di bawah langit malam yang sepi, aku duduk meresapi keheningan, membiarkan hatiku tenggelam dalam rasa rindu yang begitu dalam. Rindu yang datang tanpa permisi, menyelinap melalui celah-celah kesunyian, mengisi setiap ruang dalam jiwa yang kosong. Rindu ini terarah kepada sosok yang tak pernah aku temui, yang tak pernah aku dengar suaranya, namun namanya selalu terucap dalam setiap doa yang kupanjatkan. Rasulullah , kekasih Allah, yang hadir dalam setiap detak jantungku meski aku tak pernah memandang wajahnya. Pantaskah aku merindukannya? Tanyaku berulang kali dalam batin, seakan ada sebuah suara yang bergema, menanyakan kepantasanku. Aku, yang penuh dengan dosa dan kesalahan, yang kadang hanya bisa mengucap shalawat tanpa menyelami maknanya dengan penuh penghayatan. Namun, rindu ini tidak mengenal jarak atau batasan. Ia datang tanpa permintaan, mengalir seperti sungai yang tak bisa dihentikan, menggugah hati ini untuk selalu mengingatnya, meski aku tahu aku belum sepenuhnya layak. Tet...