Luka yang Bersuara dalam Sunyi

Ada luka yang tak mampu dititipkan pada angin, tak sanggup disematkan pada suara. Ia seperti kabut, menyelimuti jiwa dalam keheningan yang menggigil. Sakitnya tidak berteriak, tidak pula meronta, hanya bersemayam diam di sudut hati yang remuk.  

Aku menaruhnya di atas kertas, menorehkan rasa pedih itu dengan pena yang gemetar. Setiap kata yang mengalir adalah darah dari luka yang tak terlihat, menghidupkan rasa yang hanya bisa kugenggam sendiri. Menulis adalah caraku bernapas ketika dunia seolah menutup pintunya, caraku berbicara pada semesta tanpa berharap balasan.  

Namun, sungguh, menulis tidak mengobati. Ia hanya menjadi pintu kecil di mana aku dapat melarikan diri, meski sebentar saja. Setiap kalimat yang kugoreskan adalah bagian dari diriku yang perlahan terkikis, pecahan rasa yang kusembunyikan dalam balutan metafora.  

Rasa sakit ini terlalu pekat untuk diucapkan. Bagaimana aku bisa menjelaskan perih yang tidak bernama, kehilangan yang tidak terlihat? Lidahku kelu, bibirku terkunci, dan aku hanya mampu menyerahkannya pada tulisan, pada huruf-huruf yang mengerti tanpa bertanya.  

Tapi, bahkan dalam kesunyian ini, luka itu tetap berbicara. Ia berbicara melalui jeda di antara paragraf, melalui titik yang kutorehkan dengan gemetar. Rasa sakit ini adalah sajak tanpa irama, pilu yang menolak sembuh.  

Aku menulis bukan untuk melupakan, melainkan untuk berdamai. Dalam setiap bait yang kutuangkan, aku menemukan cermin dari diriku yang berantakan, mencoba memahami luka yang tidak mungkin utuh kembali. Dan meski tak ada kata yang mampu benar-benar mewakili, setidaknya tulisan ini menjadi rumah bagi rasa sakit yang tak bisa kugenggam terlalu lama.  

Biarlah rasa ini hidup di dalam kata, bersuara dalam sunyi, menjadi saksi abadi dari apa yang tidak pernah bisa kusampaikan.  

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan, Aku Ingin Pulang

Aroma Kehidupan dalam Secangkir Kopi

Mencari Pulang di Rumah Singgah