Bisikan Sunyi di Tengah Malam

Malam telah mencapai puncak keheningannya. Dunia tertidur dalam dekapan gelap, sementara aku terjaga, duduk di sudut kamar dengan hati yang penuh percakapan. Di tengah malam seperti ini, tak ada suara selain detak jam yang terasa lambat, seolah-olah waktu sendiri enggan bergerak.  

Aku dan Tuhan. Tak ada orang lain di antara kami. Malam menjadi saksi bisu dari hati yang terbuka, dari rindu yang tak terucapkan. Dalam keheningan ini, aku berbicara tanpa kata, membiarkan setiap helaan napas menjadi doa, dan setiap air mata menjadi ungkapan rasa yang tak mampu dijelaskan oleh lidah.  

Langit malam terasa dekat, seakan aku bisa menyentuhnya dengan hati. Gelapnya bukan ancaman, melainkan pelukan lembut yang membalut segala luka dan lelahku. Tuhan hadir di sini, dalam setiap desah angin malam yang menyusup melalui celah jendela, dalam setiap bintang yang bersinar redup, dalam rasa damai yang tiba-tiba menghangatkan jiwa.  

Aku bertanya, merintih, memohon. Tuhan tidak menjawab dengan kata-kata, tetapi aku merasakan-Nya dalam sunyi ini. Seolah-olah Dia berkata, "Aku mendengar." Dan itu cukup. Lebih dari cukup.  

Di tengah malam seperti ini, aku merasa lebih kecil dari sebutir debu, tetapi juga lebih dicintai daripada yang pernah aku bayangkan. Tak ada kemewahan, tak ada hiasan, hanya aku dan Tuhan, dua jiwa yang bertemu dalam keintiman waktu yang sunyi.  

Keheningan ini adalah rahmat. Di dalamnya, aku menemukan diriku, dan lebih dari itu, aku menemukan-Nya. Tuhan, yang tak pernah jauh, meski aku sering lupa mencari-Nya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan, Aku Ingin Pulang

Aroma Kehidupan dalam Secangkir Kopi

Mencari Pulang di Rumah Singgah